Kamis, 27 Februari 2014

Kisahku dan Ryan

“Boleh aku minta tolong sesuatu?” tanya Ryan lewat sms.
            “Mau minta tolong apa? Kalau aku bisa insyaallah aku bantu.” balasku.
            “Kan aku pulang sendirian, kalau boleh, aku mau minta kamu temani lewat sms.”
            Mulutku membentuk senyuman ketika membaca smsnya. Permintaan yang aneh menurutku, karena sebelumnya kami sangat jarang berbicara langsung. Baru kemarin kami berbincang-bincang lewat sms, dan ia memintaku menemaninya smsan.
            Dasar orang aneh, pikirku. “Ya, aku temani. Kamu naik kereta apa?” balasku.
            Semenjak saat itu, Ryan menjadi orang yang mengisi hari-hariku.
Sosoknya kukenal di semester awal perkuliahanku. Kami berada di kampus yang sama di Jogjakarta, namun berbeda fakultas meski satu angkatan. Aku merupakan mahasiswi kedokteran sedangkan Ryan merupakan mahasiswa teknik.
Awal pertemuan kami merupakan saat yang tak bisa aku lupakan karena ia hampir saja membuatku terlambat mengikuti kuliah siang. Saat itu aku sedang terburu-buru menuju salah satu ruang kuliahku. Aku hanya punya waktu dua puluh menit lagi sebelum perkuliahanku siang itu dimulai.
Kenapa aku tadi tidak menyiapkan waktu yang lebih banyak ya, pikirku. Sudahlah, yang penting sekarang harus cepat-cepat.
Karena terburu-buru, ditambah dengan kerepotan membawa buku diktat kuliah yang tebal-tebal, aku tidak terlalu memperhatikan jalan. Aku hanya berpikir agar cepat sampai dan tidak terlambat. Dosen mata kuliahku ini termasuk salah satu dosen yang terkenal paling disiplin di fakultas kedokteran. Beliau memberlakukan sistem denda dan hukuman bagi mahasiswanya yang datang terlambat maupun yang tidak mengerjakan tugas. Sudah terbayang di kepalaku bahwa jika aku datang terlambat, maka dapat dipastikan aku harus membayar denda sebesar Rp 20.000,00 dan menyetor hafalan atlas Sobotta jilid 1 dari halaman 1 – 10 kepada beliau dengan rentang waktu satu minggu. Ini baru semester pertama dan kami semua sudah diharuskan ‘mengakrabkan’ diri dengan buku tebal itu.
Tiba-tiba, seorang laki-laki berlari dari arah belakangku dan menyenggol buku-buku yang aku bawa sehingga semua berjatuhan. Aku kaget dengan kejadian tersebut dan hanya bisa terdiam menatap buku-bukuku yang jatuh berantakan, bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Marah pada laki-laki yang telah membuat buku-bukuku jatuh atau hanya mengambil buku-buku tersebut dan kembali bergegas menuju ruang kuliah yang masih lumayan jauh dari tempatku saat ini. Waktu yang aku miliki pun semakin berkurang. Akhirnya, aku hanya diam dan bergegas memungut buku-bukuku yang berjatuhan. Tampaknya, laki-laki tadi menyadari kesalahannya. Ia bergegas membantuku memungut buku-buku tersebut sambil berulang kali mengucapkan permintaan maaf.
“Aduh, maaf ya. Maaf banget. Tadi aku nggak lihat kamu waktu lari dan aku juga nggak tahu kalau kamu lagi bawa buku-buku yang tebal dan banyak seperti ini. Maaf ya? Aku bantu deh.” ujarnya dengan nada permintaan maaf yang tulus. Aku hanya diam dan berusaha secepat mungkin membereskan buku-bukuku, berharap dapat segera pergi dari hadapan orang tersebut dan bisa datang tepat waktu di ruang kuliahku. “Kok kamu diam saja? Aku minta maaf ya? Aku bantu bawa deh.”
“Terima kasih, tidak perlu.” Aku pun segera berlalu dan bergegas menuju ruang kuliahku kembali.
“Eh, kita belum kenalan! Nama kamu siapa? Aku Ryan!” teriaknya karena aku sudah berjalan cukup jauh. Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya.
Baru saja membuat buku-buku tebal ini jatuh, lantas ia ingin berkenalan? Dasar orang aneh, batinku. Aku tersenyum mengingat gayanya yang lucu ketika minta maaf padaku. Oh tidak, aku hanya punya waktu lima menit lagi.
Setengah berlari, aku melintasi lorong-lorong kampus. Aku sampai tepat pada waktunya di ruang kuliahku. Begitu perkuliahan dimulai, aku pun telah lupa akan kejadian tadi.

Tahun kedua di perkuliahan, aku mulai mengikuti organisasi-organisasi kemahasiswaan. Aku aktif di BEM dan juga di Lembaga Dakwah Fakultas. Tanpa aku sangka sebelumnya, Ryan ternyata juga aktif di BEM.
“Lho? Kamu kan yang dulu aku senggol terus buku-bukumu jadi jatuh semua itu kan? Yang aku minta maaf terus kamu nggak nanggepin itu kan? Yang tiba-tiba kamu pergi begitu saja padahal kita belum kenalan? Wah, kebetulan sekali kita sama-sama di BEM. Aku sudah tahu nama kamu sekarang. Faizah, kan?” berondongnya ketika kami bertemu seusai rapat pertama BEM. “Kamu anak kedokteran ya? Pantas saja bukumu tebal-tebal dan banyak. Kenalkan, namaku Ryan, anak teknik sipil.”
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan-pertanyaannya.
“Kamu masih marah karena kejadian dulu itu? Itu kan sudah lama sekali. Aku harus minta maaf lagi, nih? Maaf deh. Maafin ya.” ujarnya karena melihatku yang nyaris tidak memberikan tanggapan apapun.
Nggak kok. Nggak papa. Afwan, aku ada urusan lain, jadi harus segera pergi.” jawabku, kemudian aku bergegas keluar dari ruang rapat. Tugas-tugas kuliahku sudah menunggu di kost-kostan.
“Tuh kan, sudah pergi lagi.” Kudengar ia berkata demikian ketika aku meninggalkan ruang rapat. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Aku jadi ingat kejadian waktu itu. Ryan, si orang aneh, kenapa bisa kebetulan sekali kita sama-sama ikut BEM. Kalau dibandingkan denganku, kamu jauh lebih banyak bicara, batinku sambil tersenyum geli.
Karena sama-sama aktif di BEM, aku jadi sedikit banyak tahu tentang dirinya. Ia orang yang supel dan selalu mampu meramaikan suasana. Tapi aku juga tahu bahwa ia cerdas dan berwawasan luas. Ia punya jiwa kepemimpinan yang tinggi dan sangat bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Satu yang aku sayangkan adalah ia tidak terlalu mendalami agama. Dia memang tahu banyak hal tentang agama dan juga banyak dalil, tapi yang kutahu dari teman dekatku, ia masih belum berminat untuk lebih memperdalam agama lagi.
Lucunya, kami sering sekali ditempatkan dalam tugas yang sama. Seperti pengadaan bakti sosial dan juga pengobatan gratis. Saat sedang kerja tim, ia sering melontarkan lelucon-leluconnya. Aku biasanya tersenyum geli mendengar lelucon-leluconnya, dan kalau sudah begitu, ia akan heboh memberitakan hal tersebut.
“Eh, Faizah sampai senyum lho dengar leluconku!” ujarnya heboh. Senyumku justru semakin lebar mendengar perkataannya.
Semakin lama, aku merasa ada semacam keakraban yang ganjil di antara kami. Seakan-akan kehadirannya membuatku nyaman, membuatku merasa mengenal seseorang di antara sekian orang lainnya yang silih berganti. Mungkin karena kami berdua hampir selalu diletakkan pada tugas yang sama di organisasi, dengan teman-teman yang hampir selalu berbeda di setiap tugasnya, sehingga aku merasa nyaman karena ada seseorang yang paling tidak sudah aku kenal sebelumnya. Meskipun begitu, kami bisa dikatakan tidak pernah mengobrol untuk basa-basi maupun lainnya. Hampir seluruh percakapan kami berkisar tentang tugas-tugas organisasi.
Namun begitu, aku jadi mengetahui salah satu sifatnya yang terkadang membuatku heran. Ia mudah sekali merasa bersalah atas suatu hal dan kemudian meminta maaf akan hal itu.
Ia juga akan selalu mengingat kesalahan yang pernah diperbuatnya sehingga membuat perasaan bersalahnya tidak kunjung hilang. Hal ini sedikit banyak menjelaskan sikapnya dulu ketika kami pertama kali bertemu, ia selalu meminta maaf, bahkan ketika kami bertemu lagi setahun setelahnya.

          Tahun demi tahun berlalu. Aku kini sudah berada di stase klinik, di tahun terakhir kuliah kedokteranku. Membantu urusan-urusan administrasi pasien di rumah sakit dan juga mengikuti dokter yang lebih senior di masing-masing bagian sudah jadi keseharianku. Pengalaman-pengalaman pertama seperti menerima pasien gawat darurat yang harus segera dioperasi saat itu juga maupun ibu hamil yang sudah hampir melahirkan pun pernah kualami.
          Tapi bertahun-tahun pula aku tidak pernah kontak dengan Ryan. Saat itu Ryan seperti sekeping puzzle dari hidupku yang tidak kusadari kehilangannya. Entah kenapa, aku pun tak berniat untuk mencari tahu mengenai kabarnya.
            Hingga suatu hari, aku salah mengirimkan sms. Aku hendak mengirimkan sms ke teman yang bertugas di ruangan yang sama denganku di rumah sakit. Kebetulan sekali nomorku yang lama hilang sehingga aku baru saja mengganti nomor. Di sms itu aku tuliskan bahwa aku baik-baik saja karena sebelumnya ia bertanya tentang kabarku yang sempat ngedrop selama beberapa hari. Aku juga menuliskan namaku di sana karena khawatir temanku akan bingung melihat nomor yang tidak dikenal. Tanpa kusadari, aku justru mengirimkan sms tersebut ke nomor Ryan yang masih tersimpan di handphoneku. Ketika sadar, aku jadi malu sendiri.
            Apa yang akan Ryan pikirkan kalau membaca smsku itu?Bagaimana mungkin kamu salah kirim? Kamu harus lebih berhati-hati Faizah. Bagaimana kalau ternyata nomor Ryan masih aktif? Apa jadinya? pikirku waktu itu.
            Apa yang kukhawatirkan tidaklah terjadi. Ryan tidak pernah membalas sms tersebut, jadi kupikir ia pasti sudah berganti  nomor. Tapi kenyataannya, pikiranku yang salah.
            Aku ingat saat itu aku sedang berada di bandara. Baru saja turun dari taksi dan hendak menuju tempat check in pesawat untuk pulang ke kota asalku. Tiba-tiba handphoneku bergetar, menandakan ada sms yang masuk.
            “Assalamu’alaikum.” Bunyi sms tersebut yang berasal dari nomor tidak dikenal. Aku tidak tahu menahu siapa yang mungkin mengirimkan sms seperti ini. Teman-teman jurusanku tidak biasa menggunakan salam ketika mengawali sms.
            “Wa’alaikumussalam. Afwan, ini siapa ya? Terus, dapat nomor ini dari mana?” balasku, berusaha mengorek informasi.
            “Aku Ryan.” Otakku masih saja belum mencerna informasi yang ada ini. Banyak sekali temanku yang bernama Ryan. Masih ada kemungkinan ia bukanlah Ryan yang kukenal ketika kuliah.
            “Ryan yang mana ya? Teman MTs? Teman MAN? Atau teman kuliah?” Kukirim sms ini dengan rasa penasaran yang semakin tinggi.
            “Teman MTs.” balasnya singkat. Aku justru semakin heran. Teman MTs, tidak pernah kontak lagi sejak kelulusan, dari mana ia bisa mendapatkan nomorku yang bahkan baru beberapa minggu yang lalu kuganti?
               “Ini benar Ryan anak matsanewa? Dapat nomorku dari mana?” kejarku penasaran.
            “Hehe, bukan kok. Ini Ryan, anak teknik sipil, yang sama-sama aktif di BEM, yang dulu pernah menyenggol kamu terus bikin buku-bukumu jatuh semua. Aku dapat nomormu soalnya waktu itu kamu kayaknya salah kirim sms ke nomorku yang lama.” jelasnya lewat sms. Meskipun dari awal aku sudah mengira kalau sms itu berasal dari Ryan, tapi rasanya tetap saja mengejutkan ketika ia benar-benar mengakui bahwa itu dirinya.
              “Oh. Ada perlu apa?” balasku.
            “Nggak ada perlu kok. Cuma pingin sms saja. Sekalian cari tahu kabar kamu setelah sekian lama nggak ketemu.”
            Aku masih berpikir apakah akan membalas smsnya lagi atau tidak ketika sms lainnya masuk.
            “Eh, aku dengar, kamu sebentar lagi wisuda ya? Sebentar lagi jadi dokter dong.”
            “Kamu dapat informasi dari siapa? Alhamdulillah, insyaallah dua bulan lagi aku wisuda.” balasku, tidak tega juga membiarkan sms-smsnya.
            Tanpa kami sadari, kami larut dalam obrolan via sms itu hingga larut malam. Meskipun kami jarang mengobrol dulu, entah kenapa obrolan sms kami bisa mengalir terus. Bahkan sebelum pesawatku mengudara, aku sempatkan memberitahunya agar tidak menunggu smsku lagi karena handphoneku harus dimatikan. Tapi ternyata, obrolan sms kami berlanjut lagi setelah pesawatku mendarat. Bahkan tetap berlanjut ketika aku menaiki travel dari Surabaya ke Malang hingga akhirnya aku jatuh tertidur.
          Ketika aku bangun keesokan harinya, sms darinya sudah menantiku. Ia memintaku untuk menemaninya smsan karena ia akan pulang ke kota asalnya sendirian. Ia telah bercerita padaku kemarin bahwa ia akan pulang keesokan harinya dengan menggunakan kereta. Aku pun menyanggupinya. Hari-hari selanjutnya, kami semakin sering berbincang lewat sms. Karena aku hanya perlu mengerjakan beberapa persiapan lagi sebelum wisuda dokterku, sms-sms darinya tidak terlalu menggangguku.
            Awalnya, obrolan-obrolan kami hanya seputar hal-hal yang umum. Diskusi tentang berbagai hal yang menurut kami menarik dan saling beradu argumentasi. Banyak juga sms-sms yang berisi lelucon-lelucon yang membuatku tertawa. Ia masih Ryan yang kukenal dulu.
            Tidak jarang kami berdiskusi hingga larut malam, dan baru berhenti jika salah satu dari kami jatuh tertidur. Keesokan harinya, diskusi pun masih tetap kami lanjutkan.
            Bahkan, ketika aku wisuda dokter, ia meneleponku dan mengucapkan selamat.
            “Assalamu’alaikum. Selamat ya, Faizah. Sekarang sudah jadi bu dokter nih.” ucapnya.
            “Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah. Jazakallah ahsanal jaza’ ya.” balasku.
            “Semoga sukses ke depannya.”
            “Amin.” ucapku dengan penuh pengharapan.
            
              Kami masih tetap saling kontak setelah saat itu. Sms darinya merupakan pemandangan sehari-hari layar handphoneku. Sampai suatu malam, ia menanyakan suatu hal yang membuatku kaget.
            “Kalau aku boleh tahu, kriteria suami kamu itu seperti apa sih?” Aku tertegun cukup lama ketika membaca sms tersebut. Aku juga tidak tahu harus membalas seperti apa. Tidak lama kemudian, smsnya masuk lagi. “Faizah? Kamu sudah tidur ya?”
            “Belum. Tapi, afwan, kenapa kamu ingin tahu kriteria suamiku?” tanyaku.
            “Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin tahu saja.” balasnya.
            Setelah berpikir sesaat, aku pun memberanikan diri menulis sms balasan untuknya. Karena lama tak ada balasan lagi darinya, aku pun jatuh tertidur.
            Keesokan harinya, ketika aku membuka handphoneku, aku baru menyadari kalau baterainya telah habis. Sembari aku charge, aku pun menyalakan kembali handphoneku yang mati. Setelah menyala, sesaat kemudian tujuh buah sms masuk dari Ryan. Aku kaget melihat jumlah sms yang sebanyak itu.
            Ada apa dengannya ya? Apa dia membutuhkan sesuatu? Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Aku pun membuka sms-sms tersebut dan semakin terkejut.
            “Oh, kriteria kamu yang seperti itu ya. Hmm, aku jadi bertanya-tanya.”
            “Faizah? Kamu marah kah?”
            “Aku minta maaf kalau ada pertanyaanku atau permintaanku yang tidak berkenan di hatimu.”
            “Faizah? Kamu benar-benar marah ya? Aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud membuatmu marah.”
            “Atau kamu sudah tidur ya? Ehm, kalau boleh, aku mau ngucapin selamat tidur ke kamu. Tidur yang nyenyak ya.”
            “Assalamu’alaikum Faizah. Kamu sudah bangun?”
            “Faizah? Kamu masih marah denganku? Aku minta maaf kalau apa yang aku tanyakan telah menyakitimu.”
            Aku kaget. Semua smsnya dikirm dengan jeda waktu sepuluh menitan. Hanya dua sms terakhir yang baru dikirim pagi hari. Dari isi smsnya, ia terlihat sangat khawatir dan berusaha menjaga perasaanku.
            Akhirnya, aku memutuskan untuk membalas smsnya.
            “Wa’alaikumussalam. Afwan, aku tidak marah kok. Tadi malam bateraiku habis dan baru aku isi lagi pagi ini. Afwan kalau membuatmu khawatir.” tulisku.
            Sesaat kemudian, panggilan masuk dari nomornya. Aku ragu untuk mengangkatnya, khawatir dengan segala kemungkinan yang ada. Tapi dari yang aku tahu, jika aku tidak mengangkat teleponnya, ia akan terus meneleponku. Kuberanikan diriku untuk mengangkat telepon darinya.
            “Assalamu’alaikum. Afwan Faizah, aku tidak tahu kalau ternyata semalam seperti itu kejadiannya. Aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku takut kamu marah padaku.” Ia mengawali percakapan kami kali itu.
            “Wa’alaikumussalam. Iya, nggak papa kok. Ada perlu apa? Biasanya kan kirim sms. Ini sampai telepon segala.” tanyaku, berusaha terdengar biasa.
         “Aku mau membicarakan sesuatu yang serius denganmu.” Aku terdiam sejenak setelah ia mengucapkan kalimat ini. Hatiku terus bertanya-tanya ada apa dengannya.
            “Membicarakan apa ya?”
            “Aku ingin ta’aruf denganmu.” Aku tak bisa berkata-kata mendengar ucapannya itu. Bahkan tanpa aku sadari, air mataku mengalir perlahan, membentuk gerimis di wajahku. “Faizah? Kamu masih di sana?”
            Aku tarik napasku dalam-dalam sebelum menjawabnya. “Ya, aku masih di sini.”
            “Apa tanggapanmu?” tanyanya, terdengar sedikit khawatir.
            “Aku tidak tahu.”
            “Afwan Faizah jika ini terlalu cepat atau terlalu tidak sopan. Tapi aku tidak bisa memungkiri kalau aku senang bisa mengenal dirimu dan berdiskusi banyak hal denganmu. Aku tahu kamu tidak akan pernah menyetujui pacaran. Maka aku memberanikan diriku untuk ta’aruf denganmu, sesuai dengan syariat-Nya.”
            “Apakah kamu yakin dengan keputusanmu? Apakah kamu sudah sholat istikharah? Apa kamu sudah bertanya pada Allah tentang hal ini?”
            “Ya, Faizah. Aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Aku bahkan sudah sholat istikharah sejak wisuda doktermu dan jawaban dari-Nya tidak pernah berubah. Aku sudah banyak belajar tentang Islam dan aku juga sudah berusaha untuk memperbaiki diriku.” ujarnya dengan penuh keyakinan.
            “Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku butuh banyak pertimbangan terlebih dahulu.”
            “Tidak apa. Aku akan menunggumu. Wassalamu’alaikum.” ujarnya mengakhiri pembicaraan.
            “Wa’alaikumussalam.
            Aku masih terdiam sembari menatap handphoneku dengan tidak percaya.

            Setelah melalui banyak pertimbangan dari guru ngaji dan juga orangtuaku, begitu pula dengan sholat istikharah yang tidak putus kulakukan sejak telepon itu, aku pun menerima ajakannya. Kami resmi berta’aruf sejak saat itu.
            Proses kami berlangsung dengan cepat. Dua bulan kemudian ia mengkhitbahku dan Ryan pun resmi menjadi suamiku dua bulan sesudahnya. Terkadang, aku masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada kami.
            Banyak hal tentang dirinya yang baru kuketahui setelah kami menikah. Ia sangat romantis tapi juga pemalu. Hal-hal yang tidak pernah kuketahui dari Ryan yang kukenal dulu. Ia sangat perhatian dan selalu menjaga perasaanku. Ia sering bertanya padaku mengenai hal-hal yang ia anggap perlu izin dariku. Tapi ia pun masih sering meminta maaf padaku apabila ada hal-hal yang telah dilakukannya yang ia anggap menyinggungku atau menyakitiku.
            Tapi satu hal yang benar-benar baru kuketahui tentang dirinya adalah penyakit tahunan yang dideritanya. Ia sering mengalami demam. Ia juga sering mengalami sakit kepala yang hebat dan juga sesak napas. Hal-hal yang tidak pernah aku sangka jika melihat tingkah lakunya sehari-hari ketika kami sama-sama aktif di BEM dulu. Namun bagaimanapun, aku tidak pernah merasa menyesal menjadi istrinya.
            Suatu hari ia pernah bertanya,
            “Menurutmu, lebih baik kamu yang terluka atau aku yang terluka?”
            “Tentu saja lebih baik aku yang terluka.” jawabku sembari tersenyum.
            “Menurutku, lebih baik aku yang terluka.”
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Karena kamu tercipta dari satu tulang rusuk yang seharusnya dilindungi oleh tangan.” Aku hanya dapat menatap wajahnya dan mengucapkan terima kasih.
            Tapi pernah pula, ketika ia sedang sakit, ia tiba-tiba berkata,
            “Afwan ya.”
            “Kenapa Mas tiba-tiba minta maaf?” tanyaku.
            “Karena aku merasa tidak bisa menjadi suami yang baik bagimu. Aku selalu merepotkanmu. Aku bahkan tidak bisa benar-benar melindungimu padahal kamu adalah potongan tulang rusukku yang seharusnya aku lindungi.” ujarnya sembari menunduk.
            “Mas, aku tidak pernah merasa kamu repotkan. Aku justru merasa beruntung karena aku bisa menjalankan tugasku sebagai istri dengan sebaik-baiknya dalam merawatmu dan menemanimu.”
            “Tapi aku bukanlah orang yang sempurna. Aku payah.”
            “Mas, kau tahu, bukan manusia yang sempurna yang aku cari, karena aku tahu, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tapi ketidaksempurnaanmulah yang aku cari, karena aku ingin menjadi sosok yang menyempurnakanmu. Seperti kamu menyempurnakanku.”
            Aku ingat, saat itu aku tersenyum dan menatap matanya. Kulihat kebahagiaan di matanya, melengkapi senyum wajahnya.

            Ryan, dialah orang yang tak pernah kukira akan menjadi suamiku. Tapi kini, aku merasa bersyukur bersuamikan dirinya. Kita saling belajar dari satu sama lain dan menjadi manusia-manusia yang lebih baik lagi. Segala kenangan yang pernah kami lalui bersama, menjadi kenangan-kenangan yang tak pernah melepas senyum dari bibirku, senyum yang datang dari hatiku, seperti janjinya dulu sebelum kami resmi menikah.
            “Alasanku ya karena aku ingin menyembuhkan luka-lukamu, ingin membuatmu tersenyum, bukan cuma di bibir, tapi dari hati.”


suntingan terakhir, 21 November 2013

"Kisah ini kupersembahkan untukmu, Mas.."

Minggu, 17 Oktober 2010

Akhirnya bisa juga.!!

Alhamdulillah..
Akhirnya proses pembuatan blog ini selesai juga..
Jazakumullah khoir buat semuanya...