“Boleh aku minta tolong sesuatu?” tanya Ryan lewat
sms.
“Mau minta tolong apa? Kalau aku
bisa insyaallah aku bantu.” balasku.
“Kan aku pulang sendirian, kalau
boleh, aku mau minta kamu temani lewat sms.”
Mulutku membentuk senyuman ketika
membaca smsnya. Permintaan yang aneh menurutku, karena sebelumnya kami sangat
jarang berbicara langsung. Baru kemarin kami berbincang-bincang lewat sms, dan
ia memintaku menemaninya smsan.
Dasar orang aneh, pikirku.
“Ya, aku temani. Kamu naik kereta apa?” balasku.
Semenjak saat itu, Ryan menjadi
orang yang mengisi hari-hariku.
Sosoknya kukenal di semester awal perkuliahanku.
Kami berada di kampus yang sama di Jogjakarta, namun berbeda fakultas meski
satu angkatan. Aku merupakan mahasiswi kedokteran sedangkan Ryan merupakan mahasiswa
teknik.
Awal pertemuan kami merupakan saat yang tak bisa aku
lupakan karena ia hampir saja membuatku terlambat mengikuti kuliah siang. Saat
itu aku sedang terburu-buru menuju salah satu ruang kuliahku. Aku hanya punya
waktu dua puluh menit lagi sebelum perkuliahanku siang itu dimulai.
Kenapa aku
tadi tidak menyiapkan waktu yang lebih banyak ya, pikirku. Sudahlah, yang penting sekarang harus cepat-cepat.
Karena terburu-buru, ditambah dengan kerepotan
membawa buku diktat kuliah yang tebal-tebal, aku tidak terlalu memperhatikan
jalan. Aku hanya berpikir agar cepat sampai dan tidak terlambat. Dosen mata
kuliahku ini termasuk salah satu dosen yang terkenal paling disiplin di
fakultas kedokteran. Beliau memberlakukan sistem denda dan hukuman bagi
mahasiswanya yang datang terlambat maupun yang tidak mengerjakan tugas. Sudah
terbayang di kepalaku bahwa jika aku datang terlambat, maka dapat dipastikan
aku harus membayar denda sebesar Rp 20.000,00 dan menyetor hafalan atlas Sobotta jilid 1 dari halaman 1 – 10
kepada beliau dengan rentang waktu satu minggu. Ini baru semester pertama dan
kami semua sudah diharuskan ‘mengakrabkan’ diri dengan buku tebal itu.
Tiba-tiba, seorang laki-laki berlari dari arah
belakangku dan menyenggol buku-buku yang aku bawa sehingga semua berjatuhan.
Aku kaget dengan kejadian tersebut dan hanya bisa terdiam menatap buku-bukuku
yang jatuh berantakan, bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Marah pada
laki-laki yang telah membuat buku-bukuku jatuh atau hanya mengambil buku-buku
tersebut dan kembali bergegas menuju ruang kuliah yang masih lumayan jauh dari
tempatku saat ini. Waktu yang aku miliki pun semakin berkurang. Akhirnya, aku
hanya diam dan bergegas memungut buku-bukuku yang berjatuhan. Tampaknya,
laki-laki tadi menyadari kesalahannya. Ia bergegas membantuku memungut
buku-buku tersebut sambil berulang kali mengucapkan permintaan maaf.
“Aduh, maaf ya. Maaf banget. Tadi aku nggak lihat kamu waktu lari dan aku juga
nggak tahu kalau kamu lagi bawa
buku-buku yang tebal dan banyak seperti ini. Maaf ya? Aku bantu deh.” ujarnya
dengan nada permintaan maaf yang tulus. Aku hanya diam dan berusaha secepat
mungkin membereskan buku-bukuku, berharap dapat segera pergi dari hadapan orang
tersebut dan bisa datang tepat waktu di ruang kuliahku. “Kok kamu diam saja?
Aku minta maaf ya? Aku bantu bawa deh.”
“Terima kasih, tidak perlu.” Aku pun segera berlalu
dan bergegas menuju ruang kuliahku kembali.
“Eh, kita belum kenalan! Nama kamu siapa? Aku Ryan!”
teriaknya karena aku sudah berjalan cukup jauh. Aku hanya menggelengkan kepala
mendengar ucapannya.
Baru saja
membuat buku-buku tebal ini jatuh, lantas ia ingin berkenalan? Dasar orang aneh, batinku. Aku tersenyum
mengingat gayanya yang lucu ketika minta maaf padaku. Oh tidak, aku hanya punya waktu lima menit lagi.
Setengah berlari, aku melintasi lorong-lorong
kampus. Aku sampai tepat pada waktunya di ruang kuliahku. Begitu perkuliahan
dimulai, aku pun telah lupa akan kejadian tadi.
Tahun kedua di perkuliahan, aku mulai mengikuti
organisasi-organisasi kemahasiswaan. Aku aktif di BEM dan juga di Lembaga
Dakwah Fakultas. Tanpa aku sangka sebelumnya, Ryan ternyata juga aktif di BEM.
“Lho? Kamu kan yang dulu aku senggol terus
buku-bukumu jadi jatuh semua itu kan? Yang aku minta maaf terus kamu nggak nanggepin itu kan? Yang tiba-tiba kamu
pergi begitu saja padahal kita belum kenalan? Wah, kebetulan sekali kita
sama-sama di BEM. Aku sudah tahu nama kamu sekarang. Faizah, kan?” berondongnya
ketika kami bertemu seusai rapat pertama BEM. “Kamu anak kedokteran ya? Pantas
saja bukumu tebal-tebal dan banyak. Kenalkan, namaku Ryan, anak teknik sipil.”
Aku hanya tersenyum menanggapi
pertanyaan-pertanyaannya.
“Kamu masih marah karena kejadian dulu itu? Itu kan
sudah lama sekali. Aku harus minta maaf lagi, nih? Maaf deh. Maafin ya.” ujarnya
karena melihatku yang nyaris tidak memberikan tanggapan apapun.
“Nggak
kok. Nggak papa. Afwan, aku ada urusan lain, jadi harus segera pergi.” jawabku,
kemudian aku bergegas keluar dari ruang rapat. Tugas-tugas kuliahku sudah
menunggu di kost-kostan.
“Tuh kan, sudah pergi lagi.” Kudengar ia berkata
demikian ketika aku meninggalkan ruang rapat. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Aku jadi
ingat kejadian waktu itu. Ryan, si orang aneh, kenapa bisa kebetulan sekali
kita sama-sama ikut BEM. Kalau dibandingkan denganku, kamu jauh lebih banyak
bicara,
batinku sambil tersenyum geli.
Karena sama-sama aktif di BEM, aku jadi sedikit
banyak tahu tentang dirinya. Ia orang yang supel dan selalu mampu meramaikan
suasana. Tapi aku juga tahu bahwa ia cerdas dan berwawasan luas. Ia punya jiwa
kepemimpinan yang tinggi dan sangat bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.
Satu yang aku sayangkan adalah ia tidak terlalu mendalami agama. Dia memang
tahu banyak hal tentang agama dan juga banyak dalil, tapi yang kutahu dari
teman dekatku, ia masih belum berminat untuk lebih memperdalam agama lagi.
Lucunya, kami sering sekali ditempatkan dalam tugas
yang sama. Seperti pengadaan bakti sosial dan juga pengobatan gratis. Saat
sedang kerja tim, ia sering melontarkan lelucon-leluconnya. Aku biasanya
tersenyum geli mendengar lelucon-leluconnya, dan kalau sudah begitu, ia akan
heboh memberitakan hal tersebut.
“Eh, Faizah sampai senyum lho dengar leluconku!”
ujarnya heboh. Senyumku justru semakin lebar mendengar perkataannya.
Semakin lama, aku merasa ada semacam keakraban yang
ganjil di antara kami. Seakan-akan kehadirannya membuatku nyaman, membuatku
merasa mengenal seseorang di antara sekian orang lainnya yang silih berganti.
Mungkin karena kami berdua hampir selalu diletakkan pada tugas yang sama di
organisasi, dengan teman-teman yang hampir selalu berbeda di setiap tugasnya,
sehingga aku merasa nyaman karena ada seseorang yang paling tidak sudah aku
kenal sebelumnya. Meskipun begitu, kami bisa dikatakan tidak pernah mengobrol
untuk basa-basi maupun lainnya. Hampir seluruh percakapan kami berkisar tentang
tugas-tugas organisasi.
Namun begitu, aku jadi mengetahui salah satu
sifatnya yang terkadang membuatku heran. Ia mudah sekali merasa bersalah atas
suatu hal dan kemudian meminta maaf akan hal itu.
Ia
juga akan selalu mengingat kesalahan yang pernah diperbuatnya sehingga membuat perasaan
bersalahnya tidak kunjung hilang. Hal ini sedikit banyak menjelaskan sikapnya
dulu ketika kami pertama kali bertemu, ia selalu meminta maaf, bahkan ketika
kami bertemu lagi setahun setelahnya.
Tahun demi tahun berlalu. Aku kini
sudah berada di stase klinik, di
tahun terakhir kuliah kedokteranku. Membantu urusan-urusan administrasi pasien
di rumah sakit dan juga mengikuti dokter yang lebih senior di masing-masing
bagian sudah jadi keseharianku. Pengalaman-pengalaman pertama seperti menerima
pasien gawat darurat yang harus segera dioperasi saat itu juga maupun ibu hamil
yang sudah hampir melahirkan pun pernah kualami.
Tapi bertahun-tahun pula aku tidak
pernah kontak dengan Ryan. Saat itu Ryan seperti sekeping puzzle dari hidupku yang tidak kusadari kehilangannya. Entah
kenapa, aku pun tak berniat untuk mencari tahu mengenai kabarnya.
Hingga suatu hari, aku salah
mengirimkan sms. Aku hendak mengirimkan sms ke teman yang bertugas di ruangan
yang sama denganku di rumah sakit. Kebetulan sekali nomorku yang lama hilang
sehingga aku baru saja mengganti nomor. Di sms itu aku tuliskan bahwa aku
baik-baik saja karena sebelumnya ia bertanya tentang kabarku yang sempat
ngedrop selama beberapa hari. Aku juga menuliskan namaku di sana karena
khawatir temanku akan bingung melihat nomor yang tidak dikenal. Tanpa kusadari,
aku justru mengirimkan sms tersebut ke nomor Ryan yang masih tersimpan di handphoneku. Ketika sadar, aku jadi malu
sendiri.
Apa
yang akan Ryan pikirkan kalau membaca smsku itu?Bagaimana mungkin kamu salah
kirim? Kamu harus lebih berhati-hati Faizah. Bagaimana kalau ternyata nomor
Ryan masih aktif? Apa jadinya? pikirku waktu itu.
Apa yang kukhawatirkan tidaklah
terjadi. Ryan tidak pernah membalas sms tersebut, jadi kupikir ia pasti sudah
berganti nomor. Tapi kenyataannya,
pikiranku yang salah.
Aku ingat saat itu aku sedang berada
di bandara. Baru saja turun dari taksi dan hendak menuju tempat check in pesawat untuk pulang ke kota
asalku. Tiba-tiba handphoneku
bergetar, menandakan ada sms yang masuk.
“Assalamu’alaikum.”
Bunyi sms tersebut yang berasal dari nomor tidak dikenal. Aku tidak tahu menahu
siapa yang mungkin mengirimkan sms seperti ini. Teman-teman jurusanku tidak
biasa menggunakan salam ketika mengawali sms.
“Wa’alaikumussalam.
Afwan, ini siapa ya? Terus, dapat
nomor ini dari mana?” balasku, berusaha mengorek informasi.
“Aku Ryan.” Otakku masih saja belum
mencerna informasi yang ada ini. Banyak sekali temanku yang bernama Ryan. Masih
ada kemungkinan ia bukanlah Ryan yang kukenal ketika kuliah.
“Ryan yang mana ya? Teman MTs? Teman
MAN? Atau teman kuliah?” Kukirim sms ini dengan rasa penasaran yang semakin
tinggi.
“Teman MTs.” balasnya singkat. Aku
justru semakin heran. Teman MTs, tidak pernah kontak lagi sejak kelulusan, dari
mana ia bisa mendapatkan nomorku yang bahkan baru beberapa minggu yang lalu
kuganti?
“Ini benar Ryan anak matsanewa? Dapat nomorku dari mana?”
kejarku penasaran.
“Hehe, bukan kok. Ini Ryan, anak
teknik sipil, yang sama-sama aktif di BEM, yang dulu pernah menyenggol kamu
terus bikin buku-bukumu jatuh semua. Aku dapat nomormu soalnya waktu itu kamu
kayaknya salah kirim sms ke nomorku yang lama.” jelasnya lewat sms. Meskipun
dari awal aku sudah mengira kalau sms itu berasal dari Ryan, tapi rasanya tetap
saja mengejutkan ketika ia benar-benar mengakui bahwa itu dirinya.
“Oh. Ada perlu apa?” balasku.
“Nggak
ada perlu kok. Cuma pingin sms saja. Sekalian cari tahu kabar kamu setelah
sekian lama nggak ketemu.”
Aku masih berpikir apakah akan
membalas smsnya lagi atau tidak ketika sms lainnya masuk.
“Eh, aku dengar, kamu sebentar lagi
wisuda ya? Sebentar lagi jadi dokter dong.”
“Kamu dapat informasi dari siapa? Alhamdulillah, insyaallah dua bulan lagi
aku wisuda.” balasku, tidak tega juga membiarkan sms-smsnya.
Tanpa kami sadari, kami larut dalam
obrolan via sms itu hingga larut malam. Meskipun kami jarang mengobrol dulu,
entah kenapa obrolan sms kami bisa mengalir terus. Bahkan sebelum pesawatku
mengudara, aku sempatkan memberitahunya agar tidak menunggu smsku lagi karena handphoneku harus dimatikan. Tapi
ternyata, obrolan sms kami berlanjut lagi setelah pesawatku mendarat. Bahkan
tetap berlanjut ketika aku menaiki travel dari Surabaya ke Malang hingga
akhirnya aku jatuh tertidur.
Ketika aku bangun keesokan harinya,
sms darinya sudah menantiku. Ia memintaku untuk menemaninya smsan karena ia
akan pulang ke kota asalnya sendirian. Ia telah bercerita padaku kemarin bahwa
ia akan pulang keesokan harinya dengan menggunakan kereta. Aku pun
menyanggupinya. Hari-hari selanjutnya, kami semakin sering berbincang lewat
sms. Karena aku hanya perlu mengerjakan beberapa persiapan lagi sebelum wisuda
dokterku, sms-sms darinya tidak terlalu menggangguku.
Awalnya, obrolan-obrolan kami hanya
seputar hal-hal yang umum. Diskusi tentang berbagai hal yang menurut kami
menarik dan saling beradu argumentasi. Banyak juga sms-sms yang berisi lelucon-lelucon
yang membuatku tertawa. Ia masih Ryan
yang kukenal dulu.
Tidak jarang kami berdiskusi hingga
larut malam, dan baru berhenti jika salah satu dari kami jatuh tertidur.
Keesokan harinya, diskusi pun masih tetap kami lanjutkan.
Bahkan, ketika aku wisuda dokter, ia
meneleponku dan mengucapkan selamat.
“Assalamu’alaikum.
Selamat ya, Faizah. Sekarang sudah jadi bu dokter nih.” ucapnya.
“Wa’alaikumussalam.
Alhamdulillah. Jazakallah ahsanal
jaza’ ya.” balasku.
“Semoga sukses ke depannya.”
“Amin.” ucapku dengan penuh
pengharapan.
Kami masih tetap saling kontak
setelah saat itu. Sms darinya merupakan pemandangan sehari-hari layar handphoneku. Sampai suatu malam, ia
menanyakan suatu hal yang membuatku kaget.
“Kalau aku boleh tahu, kriteria
suami kamu itu seperti apa sih?” Aku tertegun cukup lama ketika membaca sms
tersebut. Aku juga tidak tahu harus membalas seperti apa. Tidak lama kemudian,
smsnya masuk lagi. “Faizah? Kamu sudah tidur ya?”
“Belum. Tapi, afwan, kenapa kamu ingin tahu kriteria suamiku?” tanyaku.
“Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya
ingin tahu saja.” balasnya.
Setelah berpikir sesaat, aku pun
memberanikan diri menulis sms balasan untuknya. Karena lama tak ada balasan
lagi darinya, aku pun jatuh tertidur.
Keesokan harinya, ketika aku membuka
handphoneku, aku baru menyadari kalau baterainya telah habis. Sembari aku charge, aku pun menyalakan kembali handphoneku yang mati. Setelah menyala,
sesaat kemudian tujuh buah sms masuk dari Ryan. Aku kaget melihat jumlah sms
yang sebanyak itu.
Ada apa dengannya ya? Apa dia
membutuhkan sesuatu? Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Aku pun membuka
sms-sms tersebut dan semakin terkejut.
“Oh, kriteria kamu yang seperti itu
ya. Hmm, aku jadi bertanya-tanya.”
“Faizah? Kamu marah kah?”
“Aku minta maaf kalau ada pertanyaanku
atau permintaanku yang tidak berkenan di hatimu.”
“Faizah? Kamu benar-benar marah ya?
Aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud membuatmu marah.”
“Atau kamu sudah tidur ya? Ehm,
kalau boleh, aku mau ngucapin selamat tidur ke kamu. Tidur yang nyenyak ya.”
“Assalamu’alaikum
Faizah. Kamu sudah bangun?”
“Faizah? Kamu masih marah denganku?
Aku minta maaf kalau apa yang aku tanyakan telah menyakitimu.”
Aku kaget. Semua smsnya dikirm
dengan jeda waktu sepuluh menitan. Hanya dua sms terakhir yang baru dikirim
pagi hari. Dari isi smsnya, ia terlihat sangat khawatir dan berusaha menjaga
perasaanku.
Akhirnya, aku memutuskan untuk
membalas smsnya.
“Wa’alaikumussalam.
Afwan, aku tidak marah kok. Tadi
malam bateraiku habis dan baru aku isi lagi pagi ini. Afwan kalau membuatmu khawatir.” tulisku.
Sesaat kemudian, panggilan masuk
dari nomornya. Aku ragu untuk mengangkatnya, khawatir dengan segala kemungkinan
yang ada. Tapi dari yang aku tahu, jika aku tidak mengangkat teleponnya, ia
akan terus meneleponku. Kuberanikan diriku untuk mengangkat telepon darinya.
“Assalamu’alaikum.
Afwan Faizah, aku tidak tahu kalau
ternyata semalam seperti itu kejadiannya. Aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku
takut kamu marah padaku.” Ia mengawali percakapan kami kali itu.
“Wa’alaikumussalam.
Iya, nggak papa kok. Ada perlu apa?
Biasanya kan kirim sms. Ini sampai telepon segala.” tanyaku, berusaha terdengar
biasa.
“Aku mau membicarakan sesuatu yang
serius denganmu.” Aku terdiam sejenak setelah ia mengucapkan kalimat ini.
Hatiku terus bertanya-tanya ada apa dengannya.
“Membicarakan apa ya?”
“Aku ingin ta’aruf denganmu.” Aku tak bisa berkata-kata mendengar ucapannya
itu. Bahkan tanpa aku sadari, air mataku mengalir perlahan, membentuk gerimis
di wajahku. “Faizah? Kamu masih di sana?”
Aku tarik napasku dalam-dalam
sebelum menjawabnya. “Ya, aku masih di sini.”
“Apa tanggapanmu?” tanyanya,
terdengar sedikit khawatir.
“Aku tidak tahu.”
“Afwan
Faizah jika ini terlalu cepat atau terlalu tidak sopan. Tapi aku tidak bisa
memungkiri kalau aku senang bisa mengenal dirimu dan berdiskusi banyak hal
denganmu. Aku tahu kamu tidak akan pernah menyetujui pacaran. Maka aku
memberanikan diriku untuk ta’aruf
denganmu, sesuai dengan syariat-Nya.”
“Apakah kamu yakin dengan
keputusanmu? Apakah kamu sudah sholat istikharah?
Apa kamu sudah bertanya pada Allah tentang hal ini?”
“Ya, Faizah. Aku sudah yakin dengan
keputusanku ini. Aku bahkan sudah sholat istikharah
sejak wisuda doktermu dan jawaban dari-Nya tidak pernah berubah. Aku sudah
banyak belajar tentang Islam dan aku juga sudah berusaha untuk memperbaiki
diriku.” ujarnya dengan penuh keyakinan.
“Aku belum bisa menjawabnya
sekarang. Aku butuh banyak pertimbangan terlebih dahulu.”
“Tidak apa. Aku akan menunggumu. Wassalamu’alaikum.” ujarnya mengakhiri
pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam.”
Aku masih terdiam sembari menatap handphoneku dengan tidak percaya.
Setelah melalui banyak pertimbangan
dari guru ngaji dan juga orangtuaku, begitu pula dengan sholat istikharah yang tidak putus kulakukan
sejak telepon itu, aku pun menerima ajakannya. Kami resmi berta’aruf sejak saat itu.
Proses kami berlangsung dengan
cepat. Dua bulan kemudian ia mengkhitbahku
dan Ryan pun resmi menjadi suamiku dua bulan sesudahnya. Terkadang, aku masih tidak percaya dengan apa yang telah
terjadi pada kami.
Banyak hal tentang dirinya yang baru
kuketahui setelah kami menikah. Ia sangat romantis tapi juga pemalu. Hal-hal
yang tidak pernah kuketahui dari Ryan yang kukenal dulu. Ia sangat perhatian
dan selalu menjaga perasaanku. Ia sering bertanya padaku mengenai hal-hal yang
ia anggap perlu izin dariku. Tapi ia pun masih sering meminta maaf padaku
apabila ada hal-hal yang telah dilakukannya yang ia anggap menyinggungku atau
menyakitiku.
Tapi satu hal yang benar-benar baru
kuketahui tentang dirinya adalah penyakit tahunan yang dideritanya. Ia sering
mengalami demam. Ia juga sering mengalami sakit kepala yang hebat dan juga
sesak napas. Hal-hal yang tidak pernah aku sangka jika melihat tingkah lakunya
sehari-hari ketika kami sama-sama aktif di BEM dulu. Namun bagaimanapun, aku
tidak pernah merasa menyesal menjadi istrinya.
Suatu hari ia pernah bertanya,
“Menurutmu, lebih baik kamu yang
terluka atau aku yang terluka?”
“Tentu saja lebih baik aku yang
terluka.” jawabku sembari tersenyum.
“Menurutku, lebih baik aku yang
terluka.”
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Karena kamu tercipta dari satu tulang rusuk yang
seharusnya dilindungi oleh tangan.” Aku hanya dapat menatap wajahnya dan
mengucapkan terima kasih.
Tapi pernah pula, ketika ia sedang
sakit, ia tiba-tiba berkata,
“Afwan
ya.”
“Kenapa Mas tiba-tiba minta maaf?”
tanyaku.
“Karena aku merasa tidak bisa
menjadi suami yang baik bagimu. Aku selalu merepotkanmu. Aku bahkan tidak bisa
benar-benar melindungimu padahal kamu adalah potongan tulang rusukku yang
seharusnya aku lindungi.” ujarnya sembari menunduk.
“Mas, aku tidak pernah merasa kamu
repotkan. Aku justru merasa beruntung karena aku bisa menjalankan tugasku
sebagai istri dengan sebaik-baiknya dalam merawatmu dan menemanimu.”
“Tapi aku bukanlah orang yang
sempurna. Aku payah.”
“Mas, kau tahu, bukan manusia yang
sempurna yang aku cari, karena aku tahu, tidak ada manusia yang sempurna di
dunia ini. Tapi ketidaksempurnaanmulah yang aku cari, karena aku ingin menjadi
sosok yang menyempurnakanmu. Seperti kamu menyempurnakanku.”
Aku ingat, saat itu aku tersenyum
dan menatap matanya. Kulihat kebahagiaan di matanya, melengkapi senyum
wajahnya.
Ryan, dialah orang yang tak pernah
kukira akan menjadi suamiku. Tapi kini, aku merasa bersyukur bersuamikan dirinya.
Kita saling belajar dari satu sama lain dan menjadi manusia-manusia yang lebih
baik lagi. Segala kenangan yang pernah kami lalui bersama, menjadi
kenangan-kenangan yang tak pernah melepas senyum dari bibirku, senyum yang
datang dari hatiku, seperti janjinya dulu sebelum kami resmi menikah.
“Alasanku ya karena aku ingin
menyembuhkan luka-lukamu, ingin membuatmu tersenyum, bukan cuma di bibir, tapi
dari hati.”
suntingan terakhir,
21 November 2013
"Kisah ini
kupersembahkan untukmu, Mas.."